oleh

RISE Project: Warga di Area Rawan Bencana Air Memiliki Ketangguhan Jangka Pendek

Jakarta – Konsorsium Resilient Indonesian Slums Envisioned (RISE) telah melakukan penelitian tentang banjir, kekeringan, dan sanitasi buruk di tiga kota rawan banjir sepanjang 2021-2025. Tiga kota tersebut yaitu Pontianak (Kalimantan Barat), Manado (Sulawesi Utara), dan Bima (Nusa Tenggara Barat) yang mengalami dampak urbanisasi dan perubahan iklim. Principal Investigator Konsorsium RISE, Bagus Takwin mengatakan, penelitian tersebut bertujuan untuk menjelaskan fenomena banjir dan masalah terkait air di area perkotaan.

Selain itu, penelitian juga untuk mengembangkan roadmap tata kelola inklusif, serta meningkatkan ketangguhan dan kebahagiaan. Harapannya hasil riset dan pemodelan RISE dapat pula diadopsi oleh kota-kota dengan karakteristik serupa maupun mengarahkan kebijakan dalam mengatasi perubahan iklim dan bencana secara nasional. Terutama mengingat diproyeksikan bahwa penduduk Indonesia yang tinggal di kota akan mencapai 70% pada 2045 dan sebagian besar akan hidup di wilayah sekitar atau pinggirian kota (peri-urban).

“Kita meneliti Pontianak karena berada di titik khatulistiwa yang krusial dan mengalami banjir yang panjang sejarahnya. Dan makin lama makin padat urbanisasi,” jelas Bagus Takwin di sela-sela pertemuan Konsorsium RISE di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Begitu pula Bima dan Manado yang mengalami persoalan banjir sebagai akibat perubahan iklim. Faktor lainnya yaitu karena belum banyak kajian tentang banjir dan sanitasi buruk di tiga wilayah tersebut.

Hasil penelitian sementara menemukan bahwa warga di area rawan bencana air di tiga kota yang diteliti pada umumnya cukup bahagia dan memiliki ketangguhan untuk jangka pendek. Namun, kata Bagus Takwin, dalam jangka panjang mereka belum mengindikasikan kemampuan untuk memelihara kebahagiaan dan kemampuan bertahan terhadap bencana.

Baca Juga  Gaya Kepemimpinan KASAD Yang Cintai Prajuritnya Mendapat Atensi Positif dari PBNU

“Itu yang perlu kita pikirkan, ke depan bagaimana meningkatkan resiliensi dan kebahagian mereka. Supaya bisa, bukan hanya menghadapi banjir, tapi bisa melakukan mitigasi,” tambah Bagus Takwin.

Penelitian tersebut telah dituangkan dalam produk pengetahuan seperti artikel jurnal, buku, ringkasan kebijakan, roadmap, dan modul penelitian.

Menurutnya, penelitian dengan pendekatan transdisipliner ini cukup menantang karena para peneliti berasal dari beberapa negara dan disiplin ilmu yang berbeda. Antara lain dari Indonesia, Belanda, Amerika Serikat, dan India. Termasuk pelibatan warga dalam riset yang membutuhkan pendekatan khusus agar berjalan dengan baik.

Ia berharap ada penelitian terapan sebagai lanjutan dari penelitian ini supaya hasilnya bisa diterapkan di masyarakat. Termasuk sumber pendanaan untuk penelitian terapan tersebut.

Bagus Takwin juga menekankan perlu ada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan kelompok akademis dalam penanganan bencana banjir serta dampaknya.

Principal Investigator Proyek RISE dari School of Social Sciences, Radboud University, Edwin de Jong menambahkan, hasil riset ini melebihi dari ekspektasi awal karena banyak publikasi yang telah dibuat tim riset. Baik dari sisi sosial, psikologi, antropologi dan disiplin ilmu lainnya.

“Kami mulai dengan sekitar 20 atau 30 orang dan akhirnya sampai pada 40 hingga 50 orang yang masih sangat terlibat dan mencoba untuk membuat dampak, serta perbedaan,” kata Edwin de Jong di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Edwin menambahkan tim riset sedang mengembangkan project baru sebagai keberlanjutan dari program ini. Ia berharap dapat menemukan sumber daya baru karena riset ini masih setengah perjalanan.

Baca Juga  Walkot Serang Apresiasi Hasil Kerja dari SMSI

Respons Masyarakat

Ketua Yayasan Bina Lentera Insan (LSM di Manado) Asep Rahman menilai riset ini penting karena menggunakan berbagai perspektif disiplin ilmu dan sesuai dengan kondisi di Manado. Namun, kata dia, yang menjadi tantangan adalah cara mengimplementasikan hasil riset tersebut menjadi kebijakan dan berdampak kepada masyarakat.

“Riset ini benar-benar menjadi bahan kebijakan, dan bagi kami NGO bisa menjadi bahan diskusi, sekaligus bahan advokasi ke pemerintah kota,” ujar Asep di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Asep menambahkan lembaganya juga siap membantu menindaklanjuti hasil riset tersebut. Salah satunya yaitu dengan membahasakan bahasa riset yang masih akademik menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Ketua Divisi Perempuan Perkumpulan Gemawan (Pontianak), Siti Rahmawati menilai riset ini menarik karena hasil kerja kolaboratif multipihak, termasuk melibatkan pemerintah kota Pontianak. Isu dalam penelitian tersebut juga sesuai dengan kondisi di Pontianak yang memiliki masalah banjir dan kawasan kumuh.

“Sekarang penduduk lumayan padat, ada perpindahan dari kabupaten ke kota. Di Pontianak akhirnya padat dan muncul kawasan-kawasan kumuh,” tutur Rahmawati di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Begitu pula banjir yang terus bertambah titik-titik lokasinya, meskipun berlangsung sekitar 1-2 jam. Ia berharap pemerintah kota Pontianak memiliki program yang sejalan dalam penanganan banjir ke depan.

Memastikan Rekomendasi Berjalan

Program Development Manager Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Ilham B Saenong mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang perlu dipenuhi agar rekomendasi riset dapat dijalankan para pemangku kepentingan. Pertama yaitu komitmen semua pihak untuk melanjutkan kolaborasi dari riset atau pengetahuan menjadi praktik yang berguna bagi masyarakat.

Baca Juga  Aklamasi, Ketua Litbang SMSI Pusat Djayadi Hanan Nahkodai Persepi

“Project ini sudah menghasilkan beberapa model, kalau secara konseptual itu modelnya adalah sosial ekologi. Artinya dengan lensa sosial ekologi, maka pendekatan pembangunan untuk mengatasi kerentanan dari kawasan kumuh perkotaan itu bisa dilakukan tidak hanya dengan membangun infrastruktur tapi juga bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan ekologi warga,” jelas Ilham Saenong di Jakarta Rabu (25 Februari 2025).

Ilham menambahkan masyarakat sipil juga perlu melakukan advokasi bersama di setiap daerah untuk memastikan kebijakan maupun program yang mendukung ketahanan dan kebahagiaan warga. Terakhir yang juga penting yaitu memperkuat kapasitas warga lokal maupun pemerintah lokal. Sebab, tata cara pelaksanaan rekomendasi membutuhkan diskusi dan perencanaan yang lebih baik agar dapat berjalan secara partisipatif.

Tindak Lanjut Pemerintah

Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah BAPPERIDA Kota Pontianak, Eko Prihandono mengatakan, pihaknya dalam menjalankan program atau kegiatan selalu berbasis data dan riset. Karena itu, hasil riset RISE penting bagi pemerintah kota sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan.

“Ini sangat penting karena hasil riset akan memberikan rekomendasi disertai dasar-dasar kajian eko-prinsip (prinsip ekologis). Sehingga kebijakan yang kami ambil akan lebih tepat, berdaya guna untuk menyejahterakan masyarakat Kota Pontianak,” jelas Eko Prihandono di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Selanjutnya, kata Eko, pemerintah kota Pontianak akan menyosialisasikan hasil riset ini ke seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan di Kota Pontianak. Harapannya semua pihak bisa merumuskan agenda bersama dan mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.

News Feed