oleh

Episentrum Baru Ekonomi Islam: Menjawab Tantangan Kesenjangan Aset Umat

​Oleh: Dr. Agus Syabarrudin

JAKARTA, ​Dalam perhelatan Focus Group Discussion (FGD) PFII SMSI di Bali pada 10 Juli 2026 lalu, mengemuka sebuah diskursus ekonomi yang sangat strategis: adanya potensi raksasa dari tren migrasi investor asal Timur Tengah ke Indonesia. Dinamika ekonomi global saat ini mendorong para pemilik modal dari kawasan tersebut untuk mencari pelabuhan investasi baru yang tidak hanya aman, tetapi juga memiliki fundamental pasar yang terus bertumbuh.

​Kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menjadi momentum yang sangat tepat untuk menangkap peluang emas ini.

Geliat masuknya arus kemitraan dan investasi ini bukanlah isapan jempol semata.

Sebagai contoh nyata dari terbukanya jejaring bisnis Muslim global, pada 11 Juli 2026 di Jakarta, forum Muslim Chamber of Commerce (MCC) telah menunjukkan sikap proaktif dan membuka diri untuk berbagai peluang kolaborasi bisnis. Dua peristiwa yang terpisah secara agenda ini—FGD di Bali dan keterbukaan MCC di Jakarta—sesungguhnya mengirimkan satu sinyal kuat: angin segar kebangkitan ekonomi dan investasi dunia Islam sedang bertiup deras ke arah Indonesia.

​Paradoks Kesenjangan Aset dan Magnet Ekosistem Halal Indonesia
​Sebagai eksekutif senior yang telah puluhan tahun berkecimpung di industri perbankan dan pasar modal—baik di sektor syariah maupun konvensional—serta dalam kapasitas saya sebagai Wakil Ketua Umum SMSI Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kemitraan Luar Negeri, saya melihat momentum investasi ini harus dijawab dengan kesiapan ekosistem.

Baca Juga  Ketum KERIS: Moratorium dan Tata Ulang Retail dan Pasar Modern Key Succes Jemput Puncak Bonus Demografi 2030

​Mengapa kita harus bergerak cepat? Karena dunia Islam hari ini masih dihadapkan pada sebuah paradoks besar: umat Muslim mewakili sekitar 25% dari total populasi dunia, namun secara global kita hanya mengendalikan kurang dari 2% dari total aset investasi yang ada.

Kesenjangan fundamental ini adalah indikasi nyata bahwa modal komunitas Muslim di seluruh dunia masih terfragmentasi, bekerja secara individual, dan belum terkapitalisasi menjadi kekuatan ekonomi yang terintegrasi.

​Padahal, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, magnet Indonesia sangatlah kuat. Secara statistik, potensi bisnis ekosistem halal kita adalah salah satu yang terbesar di dunia.

Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report, Indonesia secara konsisten berada di jajaran puncak lanskap ekonomi syariah global. Estimasi konsumsi produk halal domestik kita menembus angka lebih dari 200 miliar dolar AS per tahun, mencakup sektor makanan dan minuman (food & beverage), fesyen Muslim, farmasi, kosmetik, hingga pariwisata ramah Muslim.

Besarnya ukuran pasar (market size) inilah yang menjadikan Indonesia sebagai episentrum paling logis bagi migrasi investor Timur Tengah dan global.

​Harta Sebagai Amanah: Dari Akumulasi Pasif Menuju Ekuitas Aktif

​Menangkap potensi investasi ini mensyaratkan pemahaman yang lurus tentang tata kelola modal. Islam memandang harta bukan sebagai hak milik mutlak yang boleh diendapkan, melainkan amanah produktif dari Allah SWT. Realitas hari ini memperlihatkan fenomena ironis: begitu banyak modal yang “parkir” secara pasif karena keterbatasan platform pendanaan halal yang terpercaya.

Baca Juga  Menristek: GeNose C-19, Inovasi Anak Bangsa Untuk Pulihkan Ekonomi Nasional

​Khitbah ilahi dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 7 menegaskan bahwa harta tidak boleh hanya beredar di satu pusaran saja. Menjaga harta (Hifdzul Mal) dalam kerangka Maqashid Syariah di era modern berarti melipatgandakan nilainya dengan mengalirkan modal tersebut menjadi kekuatan ekuitas privat yang menggerakkan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja.

​Investasi Berbasis Risiko dan Dampak (Impact & Give Back)
​Prinsip dasar Fiqh Muamalah, Al-ghunmu bil ghurmi (keuntungan berbanding lurus dengan risiko), sangat sejalan dengan model bisnis Venture Capital dan Ekuitas Privat modern yang berlandaskan syariah.

Di sinilah pentingnya ekosistem PFII dan jejaring seperti MCC untuk mempertemukan pengusaha lokal yang inovatif dengan para pemilik modal dari Timur Tengah secara transparan.

​Modal yang masuk harus diarahkan ke sektor-sektor strategis masa depan—seperti ketahanan energi hijau (green energy), manajemen emisi karbon, adopsi teknologi, hingga ketahanan pangan.

Melalui penyaluran ini, kita tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis (Scale & Grow), tetapi juga mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Inilah manifestasi sejati dari prinsip Impact & Give Back bagi kelestarian bumi dan kesejahteraan umat.

​Jembatan Menuju Masa Depan: One Ecosystem, Shared Success
​Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Menjadi bermanfaat di era ekonomi tanpa batas ini berarti mampu mengelola dana investasi untuk menciptakan nilai tambah yang masif.

Baca Juga  Konstituen Minta Dewan Pers Membuka Draf Perpres Media Berkelanjutan

​Untuk mendobrak penguasaan aset yang saat ini di bawah 2% menuju kemandirian ekonomi umat yang paripurna, kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara potensi pasar halal domestik yang raksasa, masuknya likuiditas investor Timur Tengah, dan eksekusi kepemimpinan yang profesional adalah kunci. Ketika visi spiritual bersatu dengan strategi kapital yang tangguh di dalam satu ekosistem (one ecosystem), maka kesuksesan bersama (shared success) bukan sekadar retorika, melainkan tonggak kebangkitan ekonomi peradaban modern.

​Tentang Penulis:
​Dr. Agus Syabarrudin, M.Si. adalah seorang eksekutif senior dengan pengalaman panjang memimpin berbagai institusi perbankan dan pasar modal strategis, dengan rekam jejak di DBS Buana Tat Lee Bank (Joint Venture), ABN AMRO Bank, ABN AMRO Asset Management, Bank Mandiri Syariah, Bank Danamon Syariah, Bank Kalsel Syariah, Bank Kalsel, Bank Banten, dan Bank JTrust Indonesia. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum SMSI Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kemitraan Luar Negeri, sekaligus Senior Executive Advisor di Fundbridge Globalink Investa (Private Equity Company). Ia juga aktif memimpin inisiatif keberlanjutan sebagai pendiri dan ketua Asosiasi Profesi Peduli NetZero Emisi Karbon Indonesia (APPZEKI). Latar belakang akademisnya dengan gelar Doktor Ilmu Lingkungan (Cum Laude) dari Universitas Lambung Mangkurat memperkuat visi strategisnya dalam memadukan pembiayaan syariah, investasi berdampak (SDGs/Green Finance), dan tata kelola organisasi global.

News Feed