oleh

Davos, Prabowo, Pembangunan Manusia Sebagai Pondasi Daya Saing Jangka Panjang.

Oleh: Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, SH., MH., CREL
(Ketua Dewan Pembina SMSI Pusat)

World Economic Forum (WEF) Davos adalah panggung seleksi kepemimpinan global. Negara yang datang tanpa arah akan tenggelam dalam retorika. Negara yang datang dengan disiplin politik dan ekonomi akan dibaca sebagai mitra serius.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Davos menandai satu sikap politik yang jelas: Indonesia memilih stabilitas dibanding sensasi, konsistensi dibanding populisme. Dalam dunia yang penuh kegaduhan geopolitik, sikap ini bukan kompromi, melainkan strategi.

Prabowo membaca ekonomi sebagai persoalan kekuasaan yang dikelola, bukan sekadar pertumbuhan yang dikejar. Negara tidak boleh larut dalam euforia pasar, tetapi juga tidak boleh memusuhinya. Negara bertugas menjaga arah, memastikan hukum bekerja, dan memastikan kebijakan tidak berubah mengikuti tekanan jangka pendek.

Baca Juga  Workshop Business Model Canvas Bersama BUMDEs Curugbitung

Pilihan untuk menekankan stabilitas adalah pesan langsung kepada investor global. Modal tidak datang ke negara yang gaduh secara politik, kebijakan yang mudah berubah, dan elite yang gemar berdebat tanpa keputusan. Stabilitas adalah bahasa yang dipahami pasar global tanpa perlu diterjemahkan.

Dalam kerangka ini, kebijakan sosial bukan alat pencitraan. Ia adalah instrumen politik ekonomi. Pembangunan manusia dipahami sebagai fondasi daya saing jangka panjang, bukan komoditas elektoral. Ini membedakan kebijakan strategis dari janji populis.

Baca Juga  Koarmada RI Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan di Muara Angke

Pada level geopolitik, Indonesia menolak logika blok dan konfrontasi. Pendekatan ini menunjukkan kesadaran bahwa konflik global hari ini lebih sering merugikan negara berkembang dibanding menguntungkan. Diplomasi Indonesia diarahkan pada pengurangan risiko, bukan pertaruhan ideologis.

Davos menjadi pesan politik: Indonesia ingin dihitung sebagai negara yang rasional, dapat diprediksi, dan matang. Dalam tatanan global yang terfragmentasi, kredibilitas lebih berharga daripada retorika. Konsistensi lebih bernilai daripada keberanian yang tidak terukur.

Baca Juga  Adhyaksa Awards 2025, Jamintel Reda Manthovani Raih Penghargaan Tokoh Adhyaksa Peduli Lingkungan

Pilihan politik ekonomi Prabowo tidak dirancang untuk tepuk tangan jangka pendek. Ia dirancang untuk kepercayaan jangka panjang. Dalam politik, ini langkah berisiko. Dalam ekonomi global, ini justru syarat bertahan.

Indonesia sedang menguji satu babak penting: apakah elite nasional mampu menjaga stabilitas ketika tekanan datang, atau kembali tergoda pada politik kegaduhan. Davos hanyalah panggung. Uji sesungguhnya ada pada konsistensi setelahnya.

News Feed